Setiap pagi, kulangkahkan kaki penuh doa,
Menyapa halaman tempat tawa bermekaran.
Sekolah ini rumah keduaku,
Tempat sabar diuji, tempat harapan disemai perlahan.
Pernah kutemani langkah kecil di kelas satu,
Saat mereka belajar menulis nama,
Dan mengeja dunia dengan mata berbinar.
Di kelas empat dan lima, mereka mulai bercerita,
Tentang cita-cita sederhana, namun bercahaya.
Wajah-wajah kini tumbuh dan menjelma kenangan.
Kadang di lorong mereka datang berlari,
Menjulurkan tangan, memberi salam dan senyum.
“Bu, masih ingat aku?”
Ah, suaranya hangat, seperti masa lalu yang kembali pulang.
Aku tersenyum, tentu saja aku ingat.
Setiap anak adalah halaman di dalam hatiku.
Kami pernah tertawa, pernah juga menangis bersama,
Menulis kisah kecil yang tak akan hilang oleh waktu.
Sekolah ini bukan sekedar ruang dan papan tulis,
Ia taman tempat mimpi-mimpi bersemi.
Setiap doa, setiap pelukan, setiap tawa yang mereka bawa,
Adalah bunga yang tumbuh dari kasih dan ketulusan hati.
Dan saat lonceng pulang berdentang lembut di senja hari,
Kulihat mereka berlari membawa masa depan di genggaman.
Aku berdiri diam, hanya tersenyum,
Karena kutahu, di sini, mimpi itu sungguh bertumbuh.
